Ketika partai menjadi sumber kebohongan, eksekutif, legislatif, dan yudikatif ikut hanyut dalam arus kepalsuan.

Redaksi Timor Raya
Pembukaan
Bayangkan sebuah mata air di pegunungan. Jika mata air itu jernih, sungai yang mengalir ke desa-desa akan memberi kehidupan. Tetapi jika mata air itu keruh, seluruh aliran sungai akan tercemar. Demikianlah kebohongan: ia bermula kecil di hulu, namun mengalir deras ke hilir, meracuni seluruh sistem politik dan sosial.
Partai sebagai Hulu Kebohongan
Partai politik adalah pintu gerbang kekuasaan. Dari sinilah eksekutif dan legislatif lahir, dan yudikatif dibentuk melalui persetujuan mereka.
– Partai sebagai pabrik narasi: Janji politik yang tidak realistis, propaganda yang menutupi fakta, dan retorika yang menjauh dari kenyataan.
– Eksekutif: Menjalankan kebijakan dengan data yang dimanipulasi demi citra.
– Legislatif: Menyusun regulasi dengan kompromi kepentingan, sering kali menutup mata terhadap kebohongan eksekutif.
– Yudikatif: Menjadi legitimasi formal atas kebohongan, karena proses politik yang dikendalikan partai.
Kutipan Filsuf tentang Kebohongan
– Plato: “Falsehood, if tolerated in rulers, becomes the ruin of the state.”
– Immanuel Kant: “By a lie, a man annihilates his dignity as a man.”
– Søren Kierkegaard: “The most dangerous illusion is the lie one tells oneself.”





