Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kepemimpinan tidak boleh dijadikan ajang mencari popularitas atau kepentingan pribadi. “Saya tidak peduli jika dianggap mencari popularitas atau bahkan dibenci. Yang penting adalah ketika memegang jabatan, harus membuat keputusan yang baik bagi seluruh rakyat, terutama para pegawai. Pemilu masih ada di tahun 2029, tapi fokus kita sekarang adalah bagaimana membuat Kabupaten Kupang maju dan rakyatnya merasakan manfaatnya,” jelasnya.
Sebagai bukti komitmen merangkul semua pihak, Anton mengingatkan pengalaman politiknya saat mengatur “jodoh politik” antara Aurum Titu Eki sebagai calon wakil bupati dengan Yosef Lede Sebagai Calon Bupati. Meski terdapat perbedaan pandangan, hubungan tetap dijaga dengan saling menghargai. “Kita harus punya hati yang tulus, tidak ada rasa benci yang membawa kebaikan,” ujarnya.
Di akhir pesannya, Anton menekankan bahwa jabatan seharusnya dijalankan dengan rendah hati, untuk merangkul banyak orang dan membawa kebahagiaan.
Jabatan itu seperti pelangi yang indah setelah hujan, kepemimpinan sejati bukan tentang berapa lama ia bertahan, melainkan tentang warna kebahagiaan yang ditinggalkan bagi rakyatnya





