Suara Warga Kota Kupang di Awal Bulan Januari 2026, Kepada Media Timor Raya:
Di Kelurahan Oebobo, Maria (47) mengaku harus membeli air dari mobil tangki dua kali seminggu saat musim panas. “Biaya besar sekali, padahal penghasilan terbatas,” ujarnya.
Di Kelurahan Liliba, Yosef (65), seorang pensiunan guru, mengatakan bahkan di musim hujan pun air bersih sulit diperoleh. “Kami tetap harus tunggu mobil tangki datang. Kadang terlambat, kami terpaksa hemat sekali, bahkan untuk mandi,” katanya.
Sementara di Kelurahan Maulafa, Rian (21), mahasiswa, menuturkan keluarganya harus antre lama menampung air tangki dalam drum plastik. “Kalau tangki tidak datang, kami harus pinjam air dari tetangga. Rasanya seperti hidup di desa terpencil, padahal ini ibu kota provinsi,” ungkapnya.
Krisis air bersih di ibu kota provinsi yang berpenduduk lebih dari 480 ribu jiwa itu masih menjadi keluhan utama masyarakat. Hingga kini, Kepala Biro Ekonomi Provinsi NTT, belum memberikan penjelasan resmi atas pertanyaan publik tersebut yang telah diajukan oleh Media Tumor Raya.
Sebelumnya, saat penetapan calon direksi Jam Krida NTT, 24/01/2026, di halaman kantor PT Jamkrida NTT, Gubernur, Emanuel Laka Lena sempat mengarahkan media agar berkoordinasi dengan Kepala Biro Ekonomi tentang krisis Air Bersih di Kota Kupang. Namun, upaya konfirmasi yang dilakukan oleh Media Timor Raya tidak mendapat jawaban.
