Terkait strateginya sendiri, SPK mengungkapkan, “Strategi utama saya adalah terus memberikan masukan—baik diminta maupun tidak diminta—kepada Menko terkait bidang lingkungan hidup.
Saya juga akan mengkomunikasikan hal-hal menyangkut lingkungan hidup kepada bagian-bagian terkait di kementerian yang berada di bawah koordinasi Menko. Pengalaman saya akan menjadi dasar dalam mengembangkan program lingkungan hidup, dengan moto: Jangan beri air mata kepada anak cucu kita, tapi berilah mata air kepada anak cucu kita.
Strategi berikutnya adalah mendorong percepatan, baik secara tersirat maupun tersurat, kepada Menko terkait isu lingkungan hidup dan pertanian, karena kedua hal ini tidak bisa dipisahkan di lapangan—keduanya saling berkaitan.”
SPK juga menegaskan pentingnya peran masyarakat lokal, “Masyarakat lokal adalah aktor utama, bukan sekadar penerima kebijakan. Di wilayah seperti NTT yang memiliki karakteristik ekologis dan sosial yang unik, keterlibatan mereka dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan adalah mutlak.
Saya akan mendorong pendekatan partisipatif, mendengar kearifan lokal, serta memperkuat kapasitas masyarakat agar mereka dapat terlibat aktif dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.”
Lebih lanjut, ia menyatakan, “Salah satu agenda utama saya adalah membangun forum koordinasi lintas kementerian yang bersifat reguler dan berbasis pada isu strategis. Ini akan menjadi ruang diskusi terbuka untuk menyelaraskan kebijakan sektoral, menghindari tumpang tindih, dan memperkuat harmonisasi antara pembangunan pangan dan perlindungan lingkungan.





