Negara yang Terlalu Percaya pada Skema Bantuan
Negara tampaknya terlalu percaya bahwa beasiswa dan bantuan otomatis menyelesaikan masalah. Padahal, bantuan yang tidak adaptif, tidak cepat, dan tidak sensitif terhadap realitas harian anak hanya akan menciptakan kesenjangan baru.
Kebijakan pendidikan kita masih berangkat dari asumsi keliru: bahwa semua anak memiliki daya tahan mental yang sama terhadap kemiskinan.
Padahal, satu anak bisa bertahan tanpa sepatu.
Anak lain bisa runtuh hanya karena sebuah pena.
Ketidakadilan Kecil yang Mematikan
Tragedi di Ngada adalah contoh nyata bagaimana ketidakadilan kecil yang dinormalisasi dapat berujung fatal. Ketika alat tulis dianggap “urusan sepele”, negara lupa bahwa bagi sebagian anak, itulah satu-satunya syarat untuk merasa pantas berada di kelas.
Jika peristiwa ini dipandang sebagai kasus terisolasi, maka kita sedang menunggu tragedi berikutnya—di tempat lain, dengan alasan lain, tetapi pola yang sama.
Sebuah pena memang benda kecil. Namun di tangan kebijakan yang abai, ia bisa berubah menjadi garis batas antara bertahan dan menyerah.
Jika bangsa ini memilih menganggapnya sepele, maka kelak kita harus siap menerima kenyataan pahit: bahwa yang benar-benar habis bukan tinta pena itu, melainkan kepekaan kita sebagai masyarakat beradab.





