Idulfitri, katanya, adalah pesan moral bagi bangsa. Jika masyarakat mampu mempraktikkan maaf yang tulus, maka kehidupan sosial dan politik akan lebih sehat dan damai. Hal ini sejalan dengan Surah Al-Hujurat 49:10 yang menegaskan pentingnya persaudaraan dan mendamaikan konflik.
Bangsa Indonesia yang majemuk, lanjutnya, membutuhkan energi moral seperti yang diajarkan dalam Idulfitri. Tradisi saling memaafkan dapat menjadi fondasi untuk memperkuat kohesi sosial di tengah perbedaan. Karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai momentum refleksi bersama, tidak hanya dalam lingkup keluarga tetapi juga dalam kehidupan bernegara.
“Jika Idulfitri dimaknai secara mendalam, maka ia tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga gerakan moral untuk memperbaiki hubungan sosial dan memperkuat persatuan bangsa,” pungkasnya.
Seperti pelangi yang muncul setelah hujan deras, Idulfitri adalah jembatan yang menghubungkan luka dengan harapan, perbedaan dengan persatuan, dan kebisingan politik dengan keheningan hati.
