Kisah nyata sebut saja Marta (51) di Pasar Oesao dan putrinya Lidia menjadi wajah dari angka tersebut. Lidia, 12 tahun, sudah dua tahun tidak bersekolah karena orang tuanya tak mampu membeli seragam. Ia kini membantu ibunya menjual sayur di pasar. “Saya ingin sekolah lagi, tapi mama bilang uang tidak cukup,” ucapnya lirih. Di Kupang Timur, balita bernama sebut saja Rian berusia 3 tahun masih berjuang melawan stunting. Tubuhnya kurus, matanya sayu, dan ayahnya berharap program pemerintah benar-benar menyentuh keluarga kecil mereka.
Seorang Tokoh Masyarakat sebut saja Tomas (65) menegaskan: “Pelantikan ini adalah panggung sejarah. Tetapi sejarah bisa menjadi bumerang bila mereka gagal menjalankan amanat dari Bupati dan wakil bupati. Ingat, satu kesalahan mencoreng semua, satu prestasi mengangkat marwah seluruh alumni. Bekal ilmu pemerintahan bukan sekadar teori, melainkan tanggung jawab moral untuk menjawab penderitaan rakyat.”
Penutup
Seperti menenun kain ikat, setiap benang adalah alumni, setiap motif adalah kebijakan. Jika ditenun dengan hati-hati, kain itu akan menjadi warisan sejarah yang indah. Tetapi bila satu benang putus, motif rusak, dan kain kehilangan makna. Kini, Kabupaten Kupang menunggu: apakah 41 alumni STPDN akan menenun sejarah emas, atau justru meninggalkan kain yang koyak sebagai bumerang?
