“Semen dijual kepada masyarakat seharga Rp. 45.000 per sak, padahal dalam RAB tercantum harga Rp. 65.000 per sak. Saya sendiri membeli 25 sak, uangnya sudah saya serahkan tetapi semen belum saya ambil,” ungkap Yunus.
Selain itu, Yunus mengungkapkan adanya dugaan dua versi Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang digunakan dalam proyek tersebut. “Ada dua RAB; satu mungkin untuk pertanggungjawaban internal dan satu lagi untuk laporan ke Dinas Pemda dengan nominal lebih besar,” ujarnya saat ditemui awak media pada Sabtu (22/2/2025).
Yunus membandingkan proyek tahun ini dengan proyek serupa pada 2023 yang memiliki volume 1.300 meter dan ditenderkan dengan anggaran Rp. 189 juta. “Tahun ini, proyek swakelola dengan volume lebih kecil malah mencapai Rp. 328 juta lebih. Seharusnya, jika swakelola, biayanya lebih murah dan masyarakat bisa bekerja sendiri,” jelasnya.
Lebih lanjut, Yunus Koy juga menyoroti ketidaksesuaian dalam pengadaan bahan material, terutama jumlah pasir dan batu yang melebihi kebutuhan proyek. Berdasarkan perhitungan, jalan yang dikerjakan memiliki panjang 2.200 meter dengan ketebalan dan tinggi masing-masing 20 cm, yang seharusnya hanya membutuhkan 88 kubik material. Namun, jumlah material yang diadakan jauh lebih besar, dengan pasir mencapai 9 ret (36 kubik) dan batu 13 ret (52 kubik), sehingga menimbulkan pertanyaan tentang ke mana sisa bahan tersebut dialokasikan.





