“Saat mau menerima bayaran, kami disuruh menutup lubang dengan tanah bekas urukan ekskavator,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Toineke, Noh A’Oetpah, saat dikonfirmasi di kediamannya, membenarkan adanya kelebihan semen tersebut, namun tidak mengetahui jumlah pastinya.
“Saya sedang sakit (stroke ringan), jadi saya saat itu membuat SK untuk TPK dan anggota yang mengerjakan proyek ini. Saya menerima laporan ada kelebihan semen, tetapi tidak tahu jumlahnya. Informasinya, kelebihan material ini akan dialihkan untuk pekerjaan fisik lain,” jelasnya.
Saat ditanya mengenai dugaan penjualan semen, Kepala Desa mengaku tidak mengetahui praktik tersebut. “Kalau informasinya untuk mereka ambil dan jual semen itu, saya pribadi tidak tahu,” pungkasnya.
Hasil pantauan sekaligus investigasi awak media di lokasi proyek menemukan bahwa volume penahan sertu tidak sesuai; beberapa titik penahan sertu belum dikerjakan dan masih terdapat tumpukan material (batu). Selain itu, ditemukan ratusan sak semen di dalam sebuah kamar rumah anggota TPK. Tinggi dan lebar penahan sertu tidak sesuai, dan campuran semen serta pasir hanya diletakkan di atas permukaan tanah tanpa digali terlebih dahulu. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa proyek yang menelan anggaran ratusan juta rupiah tersebut kurang berkualitas dan terancam segera rusak akibat derasnya aliran air saat hujan.





