Perjalanan Isu di Kabupaten Kupang: Luka Seroja, Wisata Rohani, dan Keresahan PPPK
Angin yang Membawa Luka
Kabupaten Kupang, Sebuah kabupaten di ujung timur Indonesia, pernah diguncang badai yang tak hanya merobohkan rumah, tetapi juga mengguncang rasa keadilan. Badai Seroja, April 2021, datang dengan amarah langit: hujan deras, angin kencang, dan banjir bandang yang meluluhlantakkan desa-desa. Di balik reruntuhan itu, lahirlah kisah-kisah manusia yang bertahan, menunggu, dan berharap. Namun, harapan itu tak selalu berbuah.
Luka yang Tak Tersentuh Bantuan
Sofia, masih mengingat malam ketika air bah merenggut rumahnya. “Kami hanya sempat menyelamatkan anak-anak. Semua harta benda hanyut,” katanya, menatap gubuk kayu yang kini jadi tempat tinggalnya.
Sofia mendengar kabar bahwa pemerintah menyalurkan bantuan rumah permanen. Namun, namanya tak pernah masuk daftar penerima.
Ia merasa seperti warga yang hilang dari catatan negara, padahal luka yang ia alami nyata.
“Kami bangun sendiri dari papan bekas. Kalau hujan, bocor. Tapi mau bagaimana lagi?” ujarnya lirih.
Kisah Sofia bukan satu-satunya. Di pelosok desa lain, korban Seroja masih menunggu janji yang tak kunjung ditepati. Isu ini menjadi bara yang terus menyala, mengingatkan publik bahwa bencana bukan hanya soal alam, tapi juga soal keadilan sosial.
